Me story

Sunday, December 30, 2012

Mine

Sakit itu datang lagi. Sakit yang aku sendiri pun tak tahu apa obatnya. Aku melihat ke atas, ah ternyata aku tertidur dikamar adik. Suara nafas perlahan terdengar, aku menoleh ke samping.. Ibu sedang tertidur lelap dengan adik dipelukannya. Oh wajah itu.. Aku tak tega membangunkan Ibu. Biarlah sakit ini kutahan. Biarlah rasa ini hanya aku yang tahu. Pelan-pelan aku berdiri agar mereka tidak terbangun.. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku lapar. Tapi tidak ada makanan diatas meja. Dengan tertatih-tatih kaki ini terus bergerak menuju kamar.. Kamar yang selama ini menjadi saksi bisu segala cerita yang tak mampu kubagi dengan orang lain. Aku langsung menjatuhkan diri diatas kasur. Nyamannya... Kutarik selimut.. Lalu kutenggelamkan mukaku didalam guling.. Air itu turun.. Air itu membasahi kedua pipiku.. Ah aku tidak menangis, tidak. Hanya ada air yang turun di sela-sela mataku. Hanya air....

Pernahkah kamu merasa kesepian di tempat yang begitu ramai? Aku sering. Aku bukan tipe yang mau menunjukkan kesedihanku di depan orang. Tidak banyak orang yang tahu kalau didepan mereka aku harus memakai topeng yang lain. Bukan, aku bukan "si muka dua" tapi aku hanya tidak mau merepotkan mereka. Tak terhitung berapa kali aku harus menyamar seperti ini. Mereka tidak pernah sadar dibalik senyuman dan tawaku disitu tersimpan luka. Luka yang dalam. Sangat dalam..

Saat itu aku demam tinggi. Aku mengirim pesan singkat ke orang yang menurutku ya mungkin bisa meringankan rasa sakit ini. 5 menit.... 15 menit.... 45 menit.... Beep beep! Ponselku berbunyi, tanganku langsung membuka tombol menu dan menekan menu pesan. Lama aku memandangi layar didepanku... Harus berapa kali aku membaca pesan ini? Ah tidak perlu, sekarang aku mengerti dia tidak bisa diharapkan. Kalau saja perasaan ini dapat berbicara.. Mungkin dia akan menjerit dan memekakkan gendang telingaku.

Aku ingin berbicara. Berbicara dengan seseorang. Seseorang yang tidak aku kenal pun tak apa. Aku hanya ingin menumpahkan semuanya. Tak perlu nasehat, hanya butuh didengarkan.. Sumpah aku tak perlu nasehat. Kamu hanya diam dan mendengarkan seluruh keluh kesahku. Karena saat ini tidak ada seorang pun yang mau mendengarkanku. Ah, apa aku sendiri yang terlalu menutup diri? Entahlah, aku rasa aku tidak menutup diri mereka saja yang belum bisa mendeteksi sinyal-sinyalku..

Kenapa semakin dewasa masalah yang datang semakin berat? Dulu aku tak begini. Setiap masalah yang menghampiriku, aku dapat mengatasinya. Sepertinya radarku mulai melemah. Aku suka berpikir sedang berada di tepi jurang dan hembusan angin kecil saja bisa menjatuhkanku. Wuuuusssss.....

Oh yeah, I know it's not easy, I know that it's hard. No, it's not always pretty....

No comments:

Post a Comment